PEMBINAAN SOSIAL DAN PENDIDIKAN
Akidah Islam telah berhasil mewujudkan perubahan besar di bidang sosial dan pendidikan. Hal ini dapat kita lihat pada poin-poin berikut ini:
a. Membangkitkan Rasa Toleransi Sosial
Manusia periode pra-Islam dalam perilaku sosialnya dengan orang-orang sekitarnya menggunakan tolok ukur diri dan kepentingan pribadinya. Karena yang terpikir adalah diri dan kepentingan pribadinya, ia tega mengubur anak-anaknya sendiri hidup-hidup karena takut tertimpa kemiskinan dan kelaparan. Akhirnya Allah ikut campur tangan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa suci itu dari kebudayaan buruk tersebut.
Ia berfirman:
وَلاَ تَقْـتُلُوْا أَوْلاَدَكُمْ خَشْـيَةَ إِمْلاَقٍ
(Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan).[1]
Dan yang menakjubkan, manusia Jahiliah yang perhatiannya terpusat pada diri dan kepentingan pribadinya itu, ketika menyicipi ramuan-ramuan Islam (berkenaan dengan kehidupan dan tata cara hidup), ia rela mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk kepentingan agama dan masyarakatnya.
Setiap orang mengetahui pengorbanan orang-orang Anshar untuk Muhajirin. Mereka mengorbankan setiap apa yang dimiliki kepada Muhajirin yang tidak bersanak-saudara tersebut, baik rumah atau kekayaan-kekayaan mereka yang lain. Tingkat pengorbanan dan rasa peduli sosial itu tidak terbatas pada individu saja, akan tetapi rasa peduli sosial itu telah menjadi budaya masyarakat kala itu, satu hal yang belum pernah disaksikan oleh sejarah manusia.
Allah SWT telah mengabadikan budaya masyarakat yang mulia itu di dalam Alquran sebagai budaya ideal sepanjang sejarah. Ia berfirman:
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِيْنَ الَّذِيْنَ أُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُوْنَ فَضْلاً مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُوْنَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ | وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَاْلإِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلاَيَجِدُوْنَ فِي صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
(Juga bagi orang-orang fakir yang berhijrah dari kampung halaman dan harta benda mereka (karena) mencari karunia Allah dan keridlaan-Nya, serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap segala sesuatu yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang diberikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung).[2]
Islam telah membinaskan seluruh pilar dan pondasi masyarakat jahiliyah yang dibangun di atas pemilahan kasta dan kabilah dalam dua kasta: kasta kaum ningrat (al-asyraf) dan kasta kaum hamba sahaya. Kaum ningrat berhak untuk memiliki segala corak kehormatan dan kekayaan, sedangkan kaum hamba sahaya, hanya berhak untuk mengabdi kepada kaum ningrat.
Akhirnya Islam datang menghancurkan budaya pembudakan manusia itu dan menggantikannya dengan budaya baru yang menyamaratakan semua manusia dalam memiliki hak hidup dan kemuliaan. Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْـثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
(Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa).[3]
Maka dengan konsep persamaam kasta di atas, kasta hamba sahaya memiliki kemerdekaan penuh dan mendapatkan hak hidup yang layak. Dengan konsep Islam itu juga Ammar, Salman dan Bilal telah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari kedudukan para pemilik kasta terhormat Quraisy yang kala itu masih bergelimangan dalam kesesatan Jahiliah, seperti Walid bin Mughirah, Hisyam bin Hakam, Abu Sufyan dan lain-lainnya.
Bahkan dengan konsep tersebut pula, harta kekayaan tidak hanya menimbun di gudang-gudang orang-orang kaya.
Allah SWT berfirman: “Setiap harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka harta itu adalah hak Allah, Rasul-Nya, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. (Hal ini dimaskudkan) supaya harta itu jangan hanya beredar di antara kamu yang kaya. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaan-Nya”.[4]
Metode Menumbuhkan Rasa Peduli Sosial
Akidah Islam telah menumbuhkan rasa peduli sosial dalam sanubari setiap individu dengan berbagai metode dan cara, antara lain:
1. Membangkitkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap nasib orang lain (dalam sanubari setiap individu).
Hal ini dapat kita ketahui dari pernyataan dan penekanan Alquran dan hadis-hadis ma’shumin a.s. di bawah ini akan pentingnya hal itu.
Allah SWT: “Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian), karena mereka akan ditanya”.[5] Dan dalam ayat yang lain Ia berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari (sengatan) api neraka”.[6]
Rasulullah saww bersabda: “Sesungguhnya aku memiliki tanggung jawab, kamu juga memiliki tanggung jawab”.[7]
Dalam hadis yang lain beliau juga pernah bersabda: “Ingatlah, kamu semua adalah pemimpin, dan setiap orang dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas nasib orang-orang yang dipimpinnya. Setiap orang yang memegang urusan sekelompok manusia adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas nasib rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas nasib keluarganya. Seorang istri hendaknya mengurus rumah suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas nasib mereka”. [8]
Amirul mukminin a.s. berkata: “Takutlah kepada Allah berkenaan dengan hamba-hamba dan negeri-Nya ini, karena kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas tanah dan binatang (yang kamu miliki, apalagi atas hamba-hamba dan negeri-Nya itu)”.[9]
Sebagai perbandingan, kita melihat bahwa aliran-aliran pemikiran sosial hasil rekayasa otak manusia biasa hanya mementingkan rasa tanggung jawab setiap individu (terhadap masyarakatnya di dunia ini saja). Dan bertolak dari cara berpikir semacam ini, para pencetus aliran-aliran pemikiran tersebut (demi merealisasikan teori tersebut di atas bumi ini), terpaksa menulis serentetan undang-undang resmi yang diharapkan akan mampu merealisasikan tujuan mereka itu, seperti pengekangan kebebasan, penyiksaan, pendendaan dengan uang, pemecatan dari tugas, penaikan pangkat dan lain sebagainya. Dan ada kalanya respon masyarakat yang beraneka ragam juga mampu untuk mengontrol setiap individu supaya melaksanakan tanggung jawabnya sebaik-baiknya, seperti kepercayaan dan penghargaan masyarakat kepadanya atau penghinaan mereka terhadapnya.
Adapun agama Islam, ia tidak hanya mementingkan tanggung jawab individu terhadap masyarakatnya di dunia saja, akan tetapi ia juga berusaha untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab di dalam sanubarinya terhadap Penciptanya di dunia lain kelak. Dengan ini, ia akan berusaha untuk menguasai hawa nafsunya dan peduli terhadap orang lain tanpa harus ada undang-undang resmi dan respon masyarakat atau rasa iba yang memaksanya.
2. Menumbuhkan jiwa berkorban dan lebih mementingkan orang lain.
Alquran yang mulia menganjurkan para pengikutnya untuk lebih mementingkan orang lain dari dirinya sendiri dan memuji jiwa berkorban yang dimiliki oleh muslimin. Ketika Imam Ali a.s. rela mengorbankan jiwanya demi Rasulullah saww hidup dengan tidur di atas ranjang beliau (pada peristiwa Lailatul Mabit), Allah SWT memuji jiwa berkorban yang ia miliki tersebut dalam firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ وَاللهُ رَؤُوْفٌ بِالْعِبَادِ
(Dan ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya demi mencari keridlaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya).[10]
Al-Fakhrur Razi menulis: “Ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib a.s. ketika ia tidur di atas ranjang Rasulullah saww di malam keluarnya beliau menuju goa Tsaur. Diriwayatkan, ketika ia tidur di atas ranjang beliau, Jibril berdiri di arah kepalanya dan Mika`il di arah kakinya. Jibril bersabda: `Alangkah bahagianya engkau, hai Ali bin Abi Thalib. Allah telah membanggakanmu di hadapan malaikat`. Lalu turunlah ayat itu”.[11]
Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa Rasulullah saww adalah suri teladan utama dalam mementingkan orang lain dan jiwa berkorban. Diriwayatkan, beliau tidak pernah makan hingga kenyang selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat. Jika beliau menghendaki, semua kekayaan berada di bawah tangan beliau.[12]
Perilaku dan perangai beliau ini dapat kita lihat dengan jelas pula dalam tingkah laku dan perangai Ahlul Bayt a.s. Mereka berjalan di atas jejak beliau dan merealisasikan sabda-sabda beliau dalam bentuk praktek nyata.
Muhammad bin Ka’b Al-Quradli berkata: “Aku pernah mendengar Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Engkau pernah melihatku mengikat batu di atas perutku karena lapar, dan sedekah (yang telah aku berikan kepada orang-orang yang berhak, jika dibandingkan dengan nilai mata uang) sekarang, sama dengan empat ribu dinar”.[13]
Semua itu, karena beliau tidak ingin mementingkan diri sendiri. Akan tetapi sebaliknya, beliau ingin mengutamakan kepentingan orang lain atas kepentingan pribadi beliau.
Abu Nawwar, seorang penjual pakaian berkata: “Ali bin Abi Thalib a.s. pernah datang ke kedaiku bersama seorang pembantunya. Ia membeli dua baju dariku, lalu ia berkata kepada pembantunya: `Pilihlah mana yang kamu sukai`. Pembantu itu mengambil salah satunya dan ia sendiri mengambil sisanya lalu memakainya”.[14]
Dan di antara bukti-bukti sejarah yang menunjukkan adanya perombakan sosial besar yang telah diciptakan oleh akidah Islam dalam tempo yang sangat singkat adalah realita berikut ini. Di suatu hari seseorang memberi hadiah seekor kambing kepada salah seorang sahabat Rasulullah saww. Ketika menerima hadiah itu ia berkata: “Sesungguhnya saudaraku si Fulan lebih memerlukan hadian ini daripada saya”. Lantas ia pergi memberikan hadiah itu kepada saudaranya yang lebih memerlukan itu. Si Fulan itu mengatakan hal yang sama. Kejadian ini terus berulang sampai tujuh kali hingga akhirnya hadiah tersebut kembali kepada orang pertama.[15]
Demikianlah akidah Islam mendidik insan muslim untuk memiliki rasa peduli sosial setiap individu terhadap orang lain. Satu rasa peduli yang pada langkah awalnya harus dimulai dari kepedulian seseorang terhadap anggota keluarganya, tetangga, anggota negara, umat seagamanya dan kemudian umat manusia secara keseluruhan.
3. Menumbuhkan rasa kebersamaan.
Sehubungan dengan hal di atas, kita memiliki beberapa hadis yang menganjurkan setiap individu untuk hidup bersama dan tidak memisahkan diri dari masyarakat (jama’ah). Hal ini karena telah terbukti secara nyata bahwa hidup bersama akan menyebabkan kokohnya pondasi masyarakat, dan Allah SWT akan menganugerahkan kebaikan dan berkah kepada sebuah masyarakat yang hidup bersama.
Rasulullah saww bersabda:
يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَالشَّيْطَانُ مَعَ مَنْ خَالَفَ الْجَمَاعَةَ يَرْكُضُ
(Allah bersama kelompok, sedangkan syaitan bersama orang-orang yang menentang hidup berkelompok).[16]
Dalam hadis lain beliau bersabda: “Barang siapa yang keluar dari (hidup ber)-kelompok satu jengkal, maka ia telah melepaskan dirinya dari tali Islam”.[17]
Dari hadis-hadis di atas dapat dipahami bahwa Islam adalah agama sosial yang selalu berusaha semaksimal mungkin merangsang setiap individu hidup secara berkelompok.
Sangat disayangkan, pemerintahan-pemerintahan yang zalim dalam rangka mengokohkan kekuasaan dan singgasana mereka, mereka telah menyalahgunakan maksud kosa kata “kelompok” (jama’ah) tersebut. Mereka mencurahkan seluruh amarah mereka kepada setiap orang yang menyuarakan kebenaran, bersikap menentang kekuasaan dan menjelek-jelekkan cara-cara mereka yang tidak Islami (dengan tuduhan ia telah keluar dari jama’ah).
Sebagai contoh, Bani Umayyah telah membunuh setiap orang yang menentang mereka dengan tuduan ia telah keluar dari jama’ah. Begitu juga Bani Abbas telah menggunakan metode yang pernah digunakan oleh Bani Umayyah dalam usaha memberantas orang-orang yang menentang mereka. Bahkan mereka memiliki tehnik-tehnik pembunuhan dan penyiksaan lebih kejam dari Bani Umayyah.
Setiap orang yang mau menelaah buku-buku sejarah, ia akan menemukan tehnik-tehnik penyiksaan dan pembunuhan keji yang pernah dipraktekkan oleh Bani Umayyah dan Bani Abbas terhadap keturunan Ali bin Abi Thalib a.s. Hal ini karena mereka menganggap bahwa keturunan Ali bin Abi Thalib a.s. tersebut telah keluar dari jama’ah.
Rasulullah saww telah menjelaskan maksud dari kosa kata jama’ah secara gamblang. Jama’ah - sebagaimana yang diartikan oleh orang-orang yang berpikiran dangkal dan diselewengkan oleh para penguasa - tidak memiliki arti mayoritas. Akan tetapi, yang dimaksud dengan jama’ah (dalam hadis-hadis di atas) adalah kelompok ahli kebenaran meskipun secara kuantitas mereka sedikit.
Sehubungan dengan hal itu Rasulullah saww bersabda: “Barang siapa yang memisahkan diri dari jama’ah muslimin, maka ia telah melepaskan diri dari tali Islam”. “Wahai Rasulullah, siapakah jama’ah muslimin itu?”, tanya salah seorang sahabat. Beliau menjawab: “(Jama’ah muslimin adalah) kelompok ahli kebenaran meskipun jumlah mereka sedikit”.[18]
Oleh karena itu, jelaslah bagi kita bahwa akidah Islam menyeru setiap individu muslim untuk bergabung dengan jama’ah. Akan tetapi, ada beberapa hadis dalam buku-buku referensi keislaman kita yang menyeru muslimin untuk ber-’uzlah (mengasingkan diri) dan menjauhkan diri dari masyarakat.
Pengarang buku “Jami’us Sa’adaat”, Syaikh An-Naraqi telah menjawab kontradiksi kedua kelompok hadis tersebut. Ia menulis: “Ulama generasi pertama memandang ke-mutlaq-kan[19] hadis-hadis yang memuji ‘uzlah dan menerangkan faedah-faedahnya, (kemudian mereka menganjurkan setiap individu untuk ber-’uzlah dalam keadaan dan kondisi bagaimanapun). Seperti sabda Nabi saww: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang hamba yang bertakwa dan mengucilkan diri”. Atau sabda Nabi saww yang lain: “Manusia yang paling utama adalah seorang mukmin yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah SWT dan orang yang mengasingkan diri di kaki-kaki gunung”. Dan perkataan Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.: “Zaman telah rusak dan persaudaraan telah berubah. Menyendiri adalah jalan untuk menentramkan hati”. Atau ucapan beliau yang lain: “Sedikitkanlah pengetahuanmu dan jauhilah orang yang kamu kenal”.
Yang benar, keutamaan hidup bersama atau ber-’uzlah tergantung kepada masing-masing pribadi, situasi, zaman, dan tempat. Oleh karena itu, (demi menghukumi bahwa hidup bersama adalah lebih utama dari ber-’uzlah atau sebaliknya), hendaknya kita melihat masing-masing individu dan situasinya. Dimungkinkan untuk sebagian orang ber-’uzlah lebih utama dan untuk sebagian yang lain meleburkan diri dalam masyarakat lebih utama. Dan dimungkinkan juga, sebagian orang harus menjaga kestabilan antara keduanya;yaitu di samping ia harus meleburkan diri dalam masyarakat, ia juga harus memiliki kesempatan untuk ber-’uzlah”.[20]
Kita bisa menyesuaikan antara dua kelompok hadis yang secara lahiriah kontradiktif itu dengan jawaban lain di samping jawaban yang telah diajukan oleh Syaikh An-Naraqi. Hadis-hadis yang menganjurkan kita untuk ber-’uzlah tersebut, dapat kita artikan dengan beberapa arti, antara lain: pertama, hadis-hadis tersebut menganjurkan kita untuk beribadah dengan penuh khusyu’, dan ibadah semacam ini menuntut kita untuk menjauhi masyarakat beberapa waktu demi memusatkan pikiran kita kepada Allah semata.
Tentu saja, arti ini tidak dapat diterapkan atas semua jenis ibadah. Sebagai contoh, ibadah Haji adalah sebuah ibadah yang memiliki corak sosial. Dalam ibadah Haji manusia berkumpul dari segala penjuru di satu tempat dan waktu yang terbatas untuk menunaikan manasik yang satu.
Kedua, hadis-hadis tersebut memerintahkan kita untuk tidak bergaul dengan orang-orang yang berperangai jelek dan jahat. Sebagai qarinah (alasan semantis) untuk arti ini adalah wasiat Rasulullah saww kepada Abu Dzar r.a.:
يَا أَبَا ذَرٍّ، اَلْجَلِيْسُ الصَّالِحُ خَيْرٌ مِنَ الْوَحْدَةِ، وَالْوَحْدَةُ خَيْرٌ مِنْ جَلِيْسِ السُّوْءِ
(Wahai Abu Dzar, berteman dengan orang yang shalih lebih dari pada menyendiri, dan menyendiri lebih baik dari pada berteman dengan orang yang jahat).[21]
Adapun bergaul dan berkumpul dengan orang-orang yang baik - sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya - adalah satu hal yang dianjurkan oleh Islam. Secara universal dapat kita katakan, Islam menganjurkan kita untuk bergaul dengan masyarakat dan sabar atas segala gangguan mereka. Meskipun terdapat kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan kita untuk menyendiri.
Dalam kaitannya dengan hal itu Rasulullah saww bersabda:
اَلْمُؤْمِنَ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
(Seorang mukmin yang bergaul dengan masyarakatnya dan sabar atas segala gangguan mereka lebih utama dari seorang mukmin yang mengucilkan diri dari masyarakatnya dan tidak sabar atas segala gangguan mereka).[22]
Atas dasar ini, Islam mengecam ‘uzlah total dari masyarakat, dengan alasan apapun, baik untuk beribadah atau lainnya. Karena dalam Islam kita tidak diperkenankan untuk mempraktekkan kerahiban.
Pada suatu hari Rasulullah saww tidak melihat salah seorang sahabat (yang biasanya sering hadir menghadap beliau). Beliau meminta salah seorang sahabat yang lain untuk memanggilnya. Ketika sampai di hadapan beliau, ia berkata: “Wahai Rasulullah, saya ingin pergi ke gunung itu demi berkhalwat dan beribadah di dalamnya”. Maka Rasulullah saww menimpali: “Kesabaran salah seorang dari kamu sesaat terhadap musibah yang menimpanya di sebagian negeri Islam ini adalah lebih utama dari beribadah menyendiri selama empat puluh tahun”.[23]
Ringkasnya, terdapat beberapa situasi dan kondisi yang menuntut setiap individu untuk bergabung dengan jama’ah dan meleburkan diri di dalamnya, seperti jihad, shalat berjama’ah di masjid dan belajar di pusat-pusat pendidikan.
b. Merubah Sistem Hubungan Sosial
Masyarakat Jahiliah memandang hubungan darah dan rahim sebagai dasar hubungan sosial. Oleh karena itu, ketika terjadi kontradiksi antara kebenaran dan kepentingan suku, mereka lebih mengutamakan kepentingan suku atas kebenaran itu. Alquran yang mulia secara tegas mencela fanatisme model Jahiliyah ini.
Allah SWT berfirman:
إِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِي قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَهُ عَلَى رَسُوْلِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ...
(Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, (yaitu) kesombongan Jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan mukminin).[24]
Akidah Islam telah berusaha untuk menghilangkan segala jenis fanatisme dari sanubari manusia dan tidak mengakui keturunan, ras kulit, harta dan jenis kelamin sebagai tolok ukur keutamaannya dari manusia lain. Sebagai gantinya, akidah Islam menganjurkan agar hubungan sosial masyarakat dilandasi oleh asas-asas spiritual, yaitu takwa dan fadlilah. Atas dasar ini, akidah Islam ingin membasmi segala bentuk dan corak fanatisme. Karena iman dan fanatisme tidak akan pernah bertemu.
Abu Abdillah a.s. berkata: Rasulullah saww bersabda: “Barang siapa yang memiliki sifat fanatik atau rela orang lain bersikap fanatik terhadapnya, niscaya ia telah melepaskan diri dari tali iman”.[25]
Beliau juga berkata:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا اِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ
(Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak orang lain untuk bersikap fanatik, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang dengan didorong oleh semangat fanatisme dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati dalam keadaan fanatik”.[26]
Amirul Mukminin a.s. dalam sebuah khotbah beliau yang dikenal dengan nama “Al-Qashi’ah” menawarkan sebuah obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit fanatisme itu. Beliau berkata: “Sungguh aku telah meneliti, dan aku tidak menemukan seseorang di dunia ini yang bersikap fanatik terhadap sesuatu kecuali karena satu alasan yang mungkin disalah pahami oleh orang-orang bodoh atau hujah yang biasa digunakan oleh orang-orang yang tolol. Kamu jika bersikap fanatik terhadap sesuatu, (ketahuilah) setiap fanatik itu tidak memiliki sebab dan landasan (yang tepat);Iblis membanggakan diri kepada Adam as karena asalnya dan mencelanya karena penciptaannya. Ia berkata (dengan congkaknya):`Saya terbuat dari api, sedangkan engkau dari tanah`. Orang-orang kaya yang berlagak hidup mewah di muka bumi ini merasa bangga karena kenikmatan yang dimilikinya. Mereka berkata (dengan congkaknya): `Kami lebih banyak mempunyai harta dan keturunan daripada kamu, dan kami tidak akan pernah disiksa`.
Maka, jika kamu harus bersikap fanatik dan bangga diri, berbangga dirilah karena perangai yang mulia dan perbuatan yang terpuji. Berbangga dirilah karena kalian mampu menunaikan (hak-hak) tetangga, setia terhadap janji, patuh dalam kebaikan, menentang kesombongan, memiliki keutamaan, mencegah kezaliman, berhenti mengucurkan darah orang lain, berbuat bijak terhadap setiap makhluk, menahan amarah dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini”.[27]
Ali bin Husein a.s. ketika beliau ditanya mengenai fanatisme, menjelaskan arti fanatisme (‘ashabiyah), fanatisme yang terkutuk dan yang terpuji. Beliau berkata: “Fanatisme yang menyebabkan dosa, jika seseorang menganggap kaumnya yang jahat lebih utama dari kaum yang shalih. Dan tidak termasuk fanatisme yang menyebabkan dosa jika seseorang yang mencintai bangsanya. Akan tetapi, termasuk fanatisme yang menyebabkan dosa ketika seseorang membantu kaumnya berbuat kezaliman”.[28]
Demikianlah, akidah Islam telah menyirnakan awan fanatisme yang hitam dari sanubari mukminin, dan membentuk identitas baru bagi manusia yang berlandaskan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Di samping itu, akidah Islam telah menebarkan cinta dan rahmat (di dunia ini) sebagai ganti dari fanatisme dan kebencian. Karena fanatisme adalah salah satu faktor berbahaya yang dapat menyebabkan perpecahan dan kelemahan muslimin, baik secara spiritual atau material. Dan Islam telah memerangi fanatisme berbahaya itu dan selalu mengingatkan muslimin akan efek-efek negatifnya.[29]
Di antara contoh-contoh perombakan sosial paling menonjol yang pernah dilakukan oleh Islam adalah naiknya pribadi-pribadi kelas bawah pada periode pra-Islam ke puncak piramida sosial setelah bersinarnya matahari Islam. Bilal Al-Habasyi menjadi muazzin Rasulullah saww dan Salman Al-Farisi r.a. menjadi salah seorang sahabat yang agung pada era Islam dan penguasa negeri-negeri yang luas. Dan lebih dari itu, ia menjadi anggota Ahlul Bayt a.s.
Seseorang bertanya kepada Imam Ali a.s.: “Wahai Amirul Mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang Salman Al-Farisi”. Beliau menjawab: “Berbahagialah ia. Salman adalah salah satu dari kami, Ahlul Bayt dan bagaikan Lukman Al-Hakim bagi kalian ...”.[30]
Zaid bin Haritsah dan putranya, Usamah - menurut pembagian kasta masyarakat Jahiliyah - harus menjadi budak yang layak diperjual-belikan. Akan tetapi, berkat Islam, mereka telah ditunjuk untuk memimpin pasukan muslimin dalam dua peperangan agung dalam sejarah Islam.
Perubahan besar dalam alam pemikiran manusia di era risalah Islam yang sangat pendek ini, tidak mudah terwujud tanpa peran transformasi hebat yang diperankan oleh akidah Islam.
c. Anjuran untuk saling Membantu dan Mengenal
Akidah Islam telah berhasil mengubah setiap individu masyarakat dari kondisi persaingan dan pertentangan menuju kondisi saling membantu. Alquran sebagai sumber pertama akidah menganjurkan manusia untuk hidup bersama dan saling mengenal.
Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
(Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita, dan Kami menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu seling mengenal. Sesunggunya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa).[31]
Begitu juga Alquran menganjurkan manusia untuk saling tolong menolong. Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوِانِ
(Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran).[32]
Pengalaman manusia telah membuktikan bahwa saling tolong menolong akan mewujudkan kekuatan dan kemajuan. Masyarakat Jahiliah yang terbelakang dan hidup dalam kondisi pergolakan yang terus menerus karena faktor fanatisme suku, pelampiasan hawa nafsu, kepentingan pribadi atau pemonopolian sebagian mereka terhadap sumber-sumber makanan dan air, berkat Islam mereka dapat menikmati suasana hidup baru yang dihiasi oleh semangat tolong menolong dan saling membantu.
Dalam sejarah Rasulullah saww, sebagai sumber peradaban dan motivator kebangkitan, kita dapat menemukan banyak bukti tentang kecintaan beliau untuk menolong orang lain dan beliau menganjurkan kepada setiap anggota masyarakat untuk melestarikan semangat tolong menolong ini dalam hidup bermasyarakat. Antara lain:
Dalam sebuah perjalanan Beliau memerintahkan sahabat untuk menyembelih kambing. Salah seorang diantara mereka berkata: “Saya yang akan menyembelih kambing”. Yang lain menimpali: “Saya yang akan mengulitinya”. “Saya yang akan memotong-motongnya”, kata orang ketiga tidak mau kalah. “Saya yang memasaknya”, kata orang keempat tegas. (Melihat sahabat bersemangat), Rasulullah saww bersabda: “Aku yang akan memungut kayu bakar untuk kalian”. Mereka berkata: “Ya Rasulullah, demi ayah dan ibu kami, janganlah engkau bersusah payah, kami sudah cukup”.
Rasulullah saww menjawab: “Aku tahu bahwa kalian sudah cukup dan bisa mengerjakan semuanya, akan tetapi Allah tidak menyukai seorang hamba yang berpergian bersama sahabat-sahabatnya dan ia tidak mau sibuk membantu”. Selesai bersabda demikian, beliau berdiri dan memungut kayu bakar untuk mereka.[33]
Sebagaimana Rasulullah saww tidak menyukai orang yang menyendiri dari masyarakat dan tidak mau meleburkan diri bersama mereka dalam aktifitas sosial, beliau juga tidak menyukai seseorang yang menjadi beban masyarakat.
Para sahabat bercerita kepada Nabi saww mengenai seorang sahabat. Mereka berkata: “Ya Rasulullah, ia pergi bersama kami untuk melaksanakan haji. Jika kami turun (untuk istirahat), ia selalu mengagungkan Allah hingga kami melanjutkan perjalanan. Dan jika kami mulai bergerak, ia senantiasa berzikir kepada Allah hingga kami turun (untuk istirahat)”. Rasulullah saww bertanya: “Siapakah yang memberi makan hewan tunggangannya dan memasak makanannya?” “Kami”, jawab mereka serentak. Rasulullah saww bersabda: “Kalian lebih utama darinya”.[34]
Mazhab Ahlul Bayt a.s. memiliki andil besar dalam menanamkan prinsip kerja sama dan rasa solidaritas dalam sanubari manusia dan perilakunya. Sebagai contoh, Imam Ali bin Husein a.s., jika malam telah tiba dan para penduduk tidur pulas, beliau mengumpulkan sisa-sisa belanja keluarganya hari itu dan memasukkannya ke dalam kantong kulit lalu memanggulnya di atas pundaknya seraya berkeliling menuju rumah para fakir miskin membagikan-bagikan makanan tersebut kepada mereka dengan menutupi wajahnya. Dan sering kali mereka telah menunggu kedatangan beliau di depan pintu rumah mereka. Ketika mereka melihat beliau datang, mereka senang dan gembira seraya berkata: “Telah datang pemilik kantong”.[35]
Imam Al-Kadhim a.s. mencari para fakir miskin Madinah di malam hari. Setelah itu beliau memanggul keranjang yang berisi uang, rempah-rempah dan kurma, dan membagi-bagikannya kepada meraka. Mereka tidak tahu dari mana semua itu. Dan jika beliau mendengar seseorang tertimpa musibah, beliau mengirimkan sebungkus uang dinar kepadanya.[36]
Para imam ma’shum a.s. menganjurkan para pengikut mereka - secara khusus - untuk mewujudkan kerja sama dan semangat tolong menolong yang ideal di antara mereka. Sa’id bin Al-Hasan berkata: “Abu Ja’far a.s. berkata: `Apakah pernah salah seorang di antara kalian datang kepada saudaranya, lalu ia memasukkan tangannya ke dalam kantong uangnya (untuk mengambil uang dari kantong tersebut) demi menutupi hajatnya dan ia membiarkannya?` `Saya tidak pernah melihat hal itu terjadi di antara kami`, jawabku. Beliau berkata: `Jika begitu, mereka masih belum mencapai kesempurnaan`.[37]
Imam Ash-Shadiq a.s. adalah suri teladan ideal dalam membantu orang lain. Al-Fadhl bin Qurrah berkata: “Abu Abdillah a.s. membentangkan rida`-nya yang berisi bungkusan-bungkusan dinar. Lalu beliau berkata kepada utusan beliau: `Bawalah uang ini ke Fulan dan Fulan, dan katakan kepada mereka: `Kiriman ini datang dari Iraq`”. Al-Fadll melanjutkan ceritanya: “Maka utusan tersebut pergi dengan membawa uang itu kepada mereka dan menyampaikan pesan Imam tersebut. Mereka berkata kepadanya: `Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan karena hubunganmu yang dekat dengan kerabat Rasulullah saww. Adapun Ja’far, maka Allah yang akan menghukumi antara kami dan dia`. Mendengar hal itu, beliau jatuh bersujud seraya berkata: `Ya Allah, hinakanlah aku karena putera-putera ayahku`”.[38]
Imam Ash-Shadiq a.s. dengan cermat menentukan kriteria-kriteria penghambaan dan sosial para pengikut beliau. Beliau pernah berkata kepada Jabir: “Wahai Jabir, apakah cukup seorang penganut Syi’ah mengakatan saya cinta Ahlul Bayt? Demi Allah, Syi’ah kami adalah orang yang bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya. Wahai Jabir, mereka dikenal rendah hati, khusyu’, memegang amanat, banyak berzikir kepada Allah, berpuasa, berbakti kepada orang tua, membantu para fakir miskin, orang yang punya utang dan anak-anak yatim, jujur dalam berbicara, membaca Alquran dan tidak membicarakan orang lain kecuali kebaikannya ...”.[39]
Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Ketika aku duduk bersama Abu Abdillah a.s., masuklah seorang sahabat seraya mengucapkan salam. Beliau bertanya kepadanya: `Bagaimana keadaan saudara-saudaramu ketika kamu tinggalkan mereka?` Ia menjawab dengan memuji mereka. `Apakah orang-orang kaya (di daerahmu) mengunjungi para fakir miskin?`, tanya beliau lagi. `Sedikit`, jawabnya. `Apakah orang-orang kaya (di daerahmu) pergi melihat keadaan orang-orang miskin?`, tanya beliau lagi. `Sedikit`, jawabnya lagi. Beliau bertanya lagi: `Apakah orang-orang kaya (di daerahmu) menyambung tali persaudaraan dengan orang-orang fakir?`. Ia menjawab: `Anda menanyakan kriteria-kriteria yang jarang dilakukan oleh kami`. Akhirnya beliau berkata: `Bagaimana engkau mengatakan bahwa mereka adalah Syi’ah kami?`”.[40]
Atas dasar ini, kita tahu bahwa konsep saling tolong menolong dan rasa solidaritas menjadi perhatian utama para imam as. Karena rasa saling tolong menolong adalah satu-satunya cara untuk membentuk sebuah masyarakat yang tentram dan damai jauh dari persengketaan.
Sebagai bukti nyata, masyarakat Arab Jahiliah yang berpecah belah dan tidak memiliki nama di mata dunia, berkat risalah Islam masyarakat tersebut bersatu dan berwibawa.
Dalam kaitannya dengan hal di atas, Imam Ali a.s. berkata: “Bangsa Arab sekarang kendatipun (secara kuantitas) sedikit, namun berkat Islam (secara kualitas) mereka banyak dan kokoh berkat hidup bersatu?’.[41]
d. Merombak Tradisi-tradisi Jahiliyah
Akidah Islam mempunyai peran besar dalam merombak dan merubah tradisi-tradisi yang dapat merendahkan kemulian manusia dan menimbulkan segala bentuk kesukaran dan kebinasaan. Rasulullah saww dan Ahlul Bayt a.s. adalah orang pertama yang melakukan perombakan besar-besaran atas tradisi-tradisi itu. Beliau bersabda: “(Untuk menghormati orang lain), janganlah kalian berdiri sebagiamana orang-orang ‘Ajam[42] melakukan hal itu ...”.[43]
Nabi saww berusaha menyebarkan dan mengokohkan tradisi-tradisi baru yang mendidik. Abu Abdillah a.s. berkata: “Rasulullah saww jika memasuki sebuah rumah, beliau duduk di deretan terakhir”. Rasulullah saww bersabda: “Jika salah seorang dari kalian memasuki sebuah majlis, hendaklah ia duduk di deretan terakhir”.[44]
Beliau saww telah melakukan perombakan tradisi-tradisi kehidupan dalam berbagai dimensinya;dalam tata cara berdiri, duduk, makan, minum, berpakaian dan lain-lain.
Imam Ali a.s. telah melakukan hal serupa. Beliau telah bersusah payah untuk merombak sisa-sisa tradisi Jahiliah yang tidak sesuai dengan agama Islam dan mengajak masyarkat untuk membasmikan segala bentuk pemaksaaan diri dalam menghormati orang lain yang hasilnya hanya menambah keresahan masyarakat dan munculnya penghalang antara orang yang alim dan bodoh, orang yang kaya dan miskin, dan antara hakim dan rakyat jelata. Sebagai bukti atas usaha Imam Ali a.s. ini, ketika beliau dalam perjalanan menuju Syam, beliau bertemu dengan para pejabat kota Al-Anbar. Ketika mereka melihat Imam Ali a.s., mereka turun dari kuda tunggangan mereka dan membungkukkan badan di hadapan beliau. Melihat perlakuan yang aneh itu beliau berkata: “Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab: “Ini adalah tradisi kami ketika menghormati para pemimpin kami”. Beliau berkata dengan tandas: “Demi Allah, para pemimpin kalian tidak akan mendapatkan manfaat dari perlakuan semacam ini. Kalian hanya menyusahkan diri di dunia ini (dengan perlakuan semacam ini), dan di akheratpun kalian akan menghadapi kesengsaraan (karena tradisi ini). Alangkah ruginya sebuah kesulitan yang dibaliknya terdapat siksa dan alangkah beruntungnya sebuah kehidupan (tentram yang tidak diiringi oleh pemaksaan diri) yang tidak berakibat siksa neraka”.[45]
Beliau memiliki wasiat-wasiat bernilai yang dapat memberikan andil besar dalam membina manusia dan menanamkan tradisi-tradisi hasanah dalam perilakunya.
Di antara wasiat-wasiat beliau itu: “Hai manusia, didiklah jiwa-jiwamu dan luruskanlah jiwa-jiwa itu dari tradisi-tradisinya yang jelek”.[46]
Semua itu ditujukan untuk merealisasikan perombakan sosial yang menjadi cita-cita akidah Islam. Dan jelas bahwa menginginkan sebuah perombakan sosial tanpa perombakan internal jiwa dan tradisi-tradisi setiap individu, adalah hal yang mustahil, seperti kita ingin membangun sebuah bangunan tanpa pondasi.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَـيِّر مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَـيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
(Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri).[47]
Allamah Sayid Syahid Muhammad Baqir Shadr menulis: “Faktor intern (ad-dafi’ adz-dzati) adalah penyebab utama munculnya problema-problema sosial. Dan faktor ini adalah sesuatu yang orisinil dalam diri manusia, karena faktor tersebut timbul dari kecintaannya terhadap dirinya. Di sini, muncul peran agama untuk memberikan solusi mujarab bagi problem-problema itu. Dan solusi tersebut harus mempertimbangkan antara faktor-faktor intern tersebut dan kemaslahatan masyarakat umum”.[48]
Tuesday, December 22, 2009
Sosial dan Pendidikan
Posted by Wahidin Sang Perantau at 8:37 AM 0 comments
Labels: Sosial
Simeulue Bakal Miliki Perguruan Tinggi Simeulue
15 December 2009, 10:31
BANDA ACEH - Rakyat Kabupaten Simeulu, bakal memiliki perguruan tinggi. Upaya dari hal ini telah dituangkan dalam musyawarah besar yang diikuti 100 lebih tokoh kabupaten ini serta dibuka oleh Bupati Simeulue, Drs Darmili di Aula DPRK Simeulue, dua hari lalu. Informasi yang diperoleh Serambi, tokoh yang hadir dalam pertemuan itu terdiri dari birokrat, politisi, teknokrat, tokoh ulama, organisasi kepemudaan, tokoh perempuan, utusan organisasi profesi, LSM, dan kalangan akademisi. Sedangkan narasumber yang hadir dalam musyawarah itu masing-masing, Dr Aliasudin SE MSi (Dosen Fakultas Ekonomi Unsiyah Banda Aceh), dan Drs Zulkarnain MSi (Dosen Institut Takhnologi Medan/Kopertis wilayah I Medan).
Begitupun dalam musyawarah tersebut melahirkan keputusan bersama yakni pendirian perguruan tinggi Simeulue diberinama Universitas Simeulue. Dan, menetapkan pengurus yayasan melalui tim formatur yang diketuai langsung wakil Bupati Simeulue, Drs HM Yunan T yang menentapkan H Azharudin Agur SPd sebagai pimpinan yayasan dan Sarman Jayadi SH, sebagai sekretaris.
Harus Terwujud
Sementara itu, anggota DPRA asal Kabupaten Simeulu, Erly Hasyim membenarkan ada pertemuan di Simeulu, membicarakan tentang pendirian perguruan tinggi. “Saya menilai ini suatu terobosan bagus dan saya mendukung program ini,” ujar politisi dari Partai Bulan Bintang (PBB) ini.(swa)
Forum Guru PRB Simeulue Terbentuk
10:00 | Friday, 20 November 2009
Forum Guru PRB (Pengurangan Resiko Bencana) Kabupaten Simeulue yang diprakasai 12 sekolah, ditetapkan melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Simeulue Nomor : 424/2732/2009, tertanggal 11 November 2009. Ke-12 sekolah yang memprakarsai PRB tersebut yakni SMAN 1 Salang, SMPN 2 Sim Tim, MTsS Teupah Barat Inor. MTsN Kp Aie. SMAN 1 Teupah Selatan, MAS Alus-Alus, SMPN 2 TepBar Laayon, MTSsN SInabang, SMAN 2 Salang, dan SMAN 2 Sim Tim.
Terbentuknya forum guru ini berawal dari hasil kesepakatan dan musyawarah guru 12 sekolah dampingan Yayasan Pusaka Indonesia pada kegiatan workshop pembentukan Forum Guru PRB Kabuapten Simeulue tanggal 15 Oktober 2009 lalu.
Deputi Badan Pengurus Pusaka Indonesia Drs Prawoto mengatakan, terbentuknya forum guru menunjukan pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Simeulue telah berupaya mengintegrasikan program PRB masuk ke ranah sistem pendidikan sekolah dan sudah mengacu kepada kebijakan kebijakan nasional sebut saja UU No, 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan, UU No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana dan Paraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Hal ini perlu disambut baik dan menjadi contoh bagi Dinas Pendidikan di daerah lain yang ada di Indonesia, khususnya di daerah yang rawan terjadi bencana alam. “Forum Guru ini nantinya akan dapat memasukan materi-materi kebencanaan kepada anak didik saat proses belajar mengajar,” ujar Prawoto.
Secara terpisah, Koordinator Program Pengurangan Resiko Bencana Yayasan Pusaka Indonesia, Fatwa Fadillah mengatakan, forum guru ini nantinya akan melakukan sosialisasi PRB tidak hanya kepada siswa tetapi juga kepada masyarakat hal ini sangatlah penting untuk menciptakan upaya membangun budaya hidup yang aman serta terciptanya kondisi masyarakat yang tangguh di masa depan dalam menghadapi bencana. (*)
Posted by Wahidin Sang Perantau at 8:28 AM 0 comments
Labels: Pendidikan
Lengkingan Nandong di Negeri Dewata

LENGKINGAN nada tinggi Nandong memenuhi ruangan Lantai 10 Hotel Inna Grand Bali Beach Sanur, Bali, pada 28 Juni 2009. Penonton yang terdiri dari beberapa kalangan, termasuk sejumlah orang asing tampak terkesima menikmati ‘teriakan nada-nada sayatan’ Nandong yang dimainkan seniman berbakat asal Simeulue, Yoppi Andri.
Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar yang duduk di jejeran depan tampak tekun menikmati syair Nandong dalam bahasa Simeulue. Meski tidak paham benar artinya, tapi ia mengaku dapat menangkap ‘jeritan’ anak-anak pulau. “Rasanya seluruh Aceh, nadanya memiliki kemiripan. Mulai dari pesisir, wilayah kepulauan dan dataran tinggi. Napasnya satu aliran,” kata Nazar yang datang bersama istri ke hotel tertinggi di Bali itu dalam rangka peluncuran buku; Nandong, Seni Tradisional Simeulue yang juga ditulis Yoppi Andri.
Yoppi memainkan nomor Nandong begitu sempurna. Meski di beberapa bagian, ia tampak kerepotan karena harus memainkan sendiri sejumlah perangkat musik, seperti kendang, biola, seurune kale dan keybod. Pertunjukan Yoppi yang berlangsung hampir satu jam itu sebagai bagian dari gerakan ‘Nusantara Berkisah’. Ia dibantu seorang pemetik gitar akustik dan dua penabuh perkusi--yang diakui Yoppi--baru dilatih.
Nandong, adalah salah satu sastra tutur yang sangat dihayati masyarakat Simeulue sejak beratus-ratus tahun. Kesenian kharismatis ini masih tetap dihayati sampai sekarang. Seperti lazimnnya kesenian tradisional lain, syair-syair Nandong memuat kisah-kisah yang menyiratkan kedekatan manusia dengan alam. Salah satu syair (pantun) Nandong yang terkenal berkisah tentang smong, atau tsunami, yaitu sebuah fenomena alam berupa gempa dahsyat yang diikuti terjangan gelombang laut.
Pada peristiwa tsunami 26 Desember 2004, masyarakat Simeulue langsung menuju kawasan-kawasan perbukitan dan tempat tinggi tatkala terjadi gempa yang disusul laut surut. Berbeda dengan masyarakat di kawasan pesisir Aceh lainnya yang justru memungut ikan-ikan terdampar ketika laut surut. Sama sekali tidak pernah disadari bahwa ketika laut surut itu pula bencana dahsyat sedang dimulai.
Di Simeulue, menurut Yoppi Andri hanya beberapa orang saja yang jadi korban, berkat pengetahuan mereka mengenai karakteristik smong yang dituturkan melalui kesenian Nandong. Syair (pantun) itu berbunyi; jika gempanya kuat/disusul air yang surut/segera carilah tempat/dataran tinggi agar selamat//itulah smong namanya/sejarah nenek moyang kita/ingatlah ini semua/pesan dan nasehatnya//tsunami itu air mandimu/gempa ayunanmu/petir kendang-kendangmu/halilintar lampu-lampumu//.
Nandong merupakan pertunjukan yang melibatkan beberapa orang, terdiri dari seorang pemain biola dan beberapa pemain kendang. Nyanyian dilantunkan dengan syair berbentuk seloka, syair berkait yang disebut Nandong. Tapi Nandong bisa juga dimainkan secara solo, sambil duduk di lepo rumah atau di tempat mana saja sambil mengenang perjuangan hidup atau suratan takdir.
Pada pertunjukan malam itu, Yoppi melengkapi penampilannya dengan memainkan nomor ‘Bangkit Aceh’ yang menggunakan beberapa bahasa, Simeulue, Aceh, Indonesia, dan Jawa. Lagu ini diciptakan Yoppi untuk menyikapi kebangkitan kembali Aceh setelah terjangan tsunami. Wagub Muhammad Nazar dan penonton yang menyaksikan pertunjukan Nandong Yoppi malam itu mengaku surprise bahwa tanah Aceh ternyata sangat kaya dengan sumber daya seni yang bermutu. “Saya kira kita harus memberi apresiasi yang tinggi kepada Yoppi,” ujar Muhammad Nazar seusai pertunjukan. Wagub sendiri datang ke acara tersebut khusus untuk menyampaikan pidato dan meluncurkan buku yang ditulis Yoppi.
***
Lahir di Simeulue, 1973, Yoppi Andri salah seorang seniman terpenting daerah itu. Menguasai sejumlah alat musik dengan baik. Sejak 1999, Yoppi berkelana dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia untuk memperkenalkan kearifan lokal Simeulue melalui jalur kesenian. Bali dipilih sebagai tempat peluncuran buku dan pertunjukan Nandong malam itu, karena Bali merupakan etalase dunia. “Dengan begitu Simeulue akan lebih mudah diingat oleh banyak orang,” kata Yoppi.
Ada rasa galau dalam diri Yoppi manakala nama Simeulue kurang berkibar dalam pergaulan Nusantara. Ternyata masyarakat luar tak banyak yang tahu Simeulue. “Ketika tsunami di Aceh, Simeulue tidak banyak dibincangkan. Seolah tenggelam begitu saja,” katanya, masygul. Berkat ketekunan dan perjuangan pantang menyerah, Yoppi akhirnya berhasil mengharumkan nama Simeulue di beberapa tempat di Tanah Air melalui serangkaian pertunjukan yang digagasnya bersama lembaga Falara, organisasi swadaya yang dipimpin dan dibentuk Yoppi. Dia pula yang menggagasi festival Nandong di Siemulue dan mempopulerkannya di berbagai tempat.
Sedianya, pada malam itu, Yoppi didukung dua seniman Nandong dari Siemulue. Tapi, tanpa alasan jelas, kedua seniman tersebut akhirnya pulang meninggalkan Bali. “Tapi pertunjukan ini tak boleh surut, dan Alhamdulillah Bapak Nazar bersedia hadir. Ini sebuah penghargaan besar bagi saya,” kata Yoppi. Pertunjukan yang dikemas dalam paket ‘Nusantara Berkisah’ tersebut dimeriahkan pula oleh pertunjukan kelompok musikalisasi puisi Deavies Sanggar Matahari. Kelompok anak bersaudara kandung ini membawakan musikalisasi puisi bertema Aceh.(fikar w.eda)
Posted by Wahidin Sang Perantau at 8:23 AM 0 comments
Labels: Budaya Dan Wisata
Dewan Setuju Dibangun Pergurun Tinggi di Simeulue
9 December 2009, 08:11
BANDA ACEH - Anggota DPRK Simeulue, mendukung rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat untuk membangun perguruan tinggi, sebagai upaya menampung lulusan SMA yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. “Kami sangat mendukung program Bupati Simeulue Darmili yang ingin membangun perguruan tinggi di daerah kepulauan itu,” kata Sekretaris Komisi-C DPRK Simeulue, Rahmat di Banda Aceh, Selasa.
Kabupaten Simeulue yang berada di Samudera Hindia itu sangat jauh dengan ibukota provinsi, sehingga banyak lulusan SMA yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi tidak kesampaian, karena kurangnya biaya orang tua mereka. “Sebenarnya minat anak-anak lulusan SMA di Simeulue untuk melanjutkan sekolah cukup tinggi, namun jauhnya hubungan transportasi ke ibukota provinsi membuat mereka tidak bisa sekolah ke jenjang yang lebih tinggi,” ujar Rahmat kader Partai Gerakan Pemuda Indonesia.
Putra Simelue yang bisa sekolah sampai perguruan tinggi di Banda Aceh adalah mereka yang orang tuanya mampu atau bermodal nekad, karena keinginannya begitu besar untuk melanjutkan pendidikan, katanya. Rahmat menyatakan, perguruan tinggi di Simeulue harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah, seperti guru dan tenaga kesehatan, kemudian ditambah jurusan yang spesifik, yaitu tentang bahari.
Disebutkan, Kabupaten Simeulue sekarang ini sangat kekurangan tenaga guru dan tenaga kesehatan, sehingga perlu dibuka jurusan pendidikan dan keperawatan. Untuk jurusan spesifik perlu adanya Fakultas Perikanan Laut, karena potensi ekonomi yang cukup besar adalah sektor kelautan, sehingga diharapkan daerah tersebut menjadi tujuan untuk menuntut ilmu kelautan, katanya.
Informasi yang diperoleh, untuk mewujudkan perguruan tinggi tersebut, Pemkab Simeulue telah melakukan berbagai lokakarya dengan mengundang pakar pendidikan dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh dan putra daerah yang telah berhasil. Bupati Darmili kini sudah membentuk badan pembentukan perguruan tinggi daerah, yang anggotanya para tokoh ulama dan masyarakat setempat, baik yang ada di Simeulue maupun luar daerah.(ant)
8 December 2009, 09:59
Anggota Dewan Simeulue Diminta Pro Aktif
Simeulue
BANDA ACEH - Warga Kabupaten Simeulue di Banda Aceh berharap agar anggota dewan kabupaten setempat pro aktif memperjuangkan aspirasi rakyat. Mereka harus mampu membangun Simelue serta kritis terhadap pemerintah setempat dalam rangka melakukan pengawasan. Tokoh muda Kabupaten Simeulue, Agus Alian SSOsI, dalam pernyataan tertulis yang diterima Serambi, kemarin berharap, anggota dewan daerah ini proaktif dan pro rakyat. “Segenap masyarakat Simelue di Banda Aceh berharap para anggota dewan setempat pro aktif melaksanakan tugas. Mereka harus mengutanamakan kepentingan rakyat dari kepentingan pribadi dan golongan,” katanya.
Aktivis pergerakan dakwah ini menilai, keberadaan dewan Simelue yang merupakan wajah baru merupakan tantangan untuk melakukan kerja yang lebih cepat kearah lebih baik. Kebaikan diharapkan dalam menjalankan tugas dan fundsinya sebagai perancang aturan daerah (qanun), anggaran dan pengawasan.
Begitupun terhadap pengawasan kinerja pejabat daerah ujar Agus Alian agar dilakukan secara baik melalui pansus ke daerah pemilihan masing-masing. Upaya ini penting sehingga bisa mengetahui langsung aspirasi masyarakat. Dan, yang penting adalah bagaimana merubah pola pikir lama anggota dewan.(swa)
DPRK Simeulue Dukung Kejati Usut Kasus Rumah BRR PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Siswoyo
Kamis, 17 Desember 2009 12:56
BANDA ACEH Sekretaris Komisi-C DPR Kabupaten Simeulue, Rahmad mendukung upaya Kejaksaan Tinggi Aceh melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan korupsi proyek pembangunan 950 unit rumah korban gempa dan tsunami di daerah kepulauan itu.
"Kami sangat setuju langkah yang dilakukan Kejati Aceh itu, karena sangat tidak etis kontraktor dan pejabat negara yang menari-nari di atas penderitaan korban bencana," kata Rahmad saat dihubungi dari Banda Aceh, Rabu.
Kejati sedang melakukan penyidikan dugaan korupsi rumah bantuan BRR yang dikerjakan oleh PT Haruman Putra Wira (HPW) senilai Rp57 miliar.
Kasus yang kini sudah ditingkatkan ke tahap penyidikan, ditemukan adanya indikasi kerugian negara mencapai Rp10,9 miliar lebih. Proyek itu didanai oleh BRR Aceh-Nias tahun 2007 melalui Satker BRR Bantuan Pembangunan Perumahan Kembali (BPPK) Simeulue.
Sebelumnya, Asisten Intelijen Kejati Aceh, HM Adam SH didampingi Kasi Penkum/Humas, Ali Rasab Lubis SH mengatakan, kasus ini terungkap berawal dari laporan Satuan Antikorupsi (SAK) BRR Aceh-Nias.
Kemudian laporan itu ditindaklanjuti dengan melakukan operasi intelijen lewat pengumpulan bukti dan keterangan.
"Ternyata kita menemukan indikasi penyimpangan awal, lalu ditingkatkan ke tahap penyelidikan," kata dia.
Rahmad yang juga Ketua DPD Partai Pemuda Indonesia Kabupaten Simeulue itu menyatakan, pihak Kejati tidak hanya mengungkap kasus korupsi perumahan, tapi juga proyek jalan aspal dan jembatan yang dikelola BRR di daerah itu.
Ia menilai, proyek tersebut ada dugaan kuat merugikan keuangan negara, karena jalan yang baru dibangun kini sudah rusak.
"Dalam pengusutan, kita juga minta tidak hanya kontraktor, tetapi konsultan perencanaan, pengawasan dan para pejabat, yang turut terlibat menikmati uang korupsi," katanya.
Menurut dia, Simeulue akhir-akhir ini diduga telah dijadikan ladang korupsi oleh oknum-oknum kontraktor dan pejabat.
Adam menyatakan, kasus perumahaan BRR tersebut semakin terkuak adanya indikasi tindakan penyimpangan yang dilakukan secara bersama-sama antara pihak rekanan dengan pejabat di Satker BRR BPPK Simeulue.
Dijelaskan, pada tahun anggaran 2007 BRR Aceh-Nias menganggarkan dana Rp57,550 miliar untuk pembangunan 950 rumah bagi korban bencana alam gempa dan tsunami di Simeulue yang dibagi dalam dua paket.
Untuk paket I sebanyak 485 rumah dengan pagu Rp29,75 miliar, dan paket II sebanyak 465 rumah dengan pagu sebesar Rp27,8 miliar.
Rumah yang dibangun tersebut menggunakan struktur prefab, yakni struktur kerangka baja, atap, jendela, dan pintu rumah tersebut telah disediakan oleh pihak BRR. Sedangkan rekanan hanya melakukan proses pekerjaan pemasangan kerangka baja, atap, membuat pondasi rumah, dinding, lantai keramik, jendela, pintu, cat, dan sebagainya.
Dalam proses tender, juga diduga terjadi penyimpangan, karena kedua paket proyek tersebut dimenangkan oleh satu perusahaan yaitu, PT HPW dengan nilai penawaran paket I sebesar Rp27,634 miliar dan paket II Rp26,494 miliar atau total seluruhnya Rp54, 129 miliar .
"Seharusnya perusahaan tersebut tidak boleh jadi pemenang, karena penawaran yang dilakukan tidak sesuai dengan desainnya. Dan seharusnya kalau tidak sesuai perusahaan itu harus gugur dalam tender, tetapi malah dimenangkan. Dari awal proyek ini memang sudah menyalahi," kata M Adam.
LAST_UPDATED2
Posted by Wahidin Sang Perantau at 8:10 AM 0 comments
Labels: DPRK Simeulue
Miranda Goeltom-Gayus Lumbuun Sempat Menegang

Selasa, 22 Desember 2009 | 21:07 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemeriksaan Pansus Hak Angket Bank Century terhadap mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom, Selasa (22/12/2009) di DPR, Jakarta, sempat memanas. Salah satu pemicunya adalaha pertanyaan Wakil Ketua Pansus Gayus Lumbuun yang cukup tajam.
Saat itu, Gayus sempat menanyakan Miranda terkait pertanggungjawaban terhadap dana talangan Bank Century senilai Rp 6,7 triliun yang dikucurkan Lembaga Penjamin Simpanan. Miranda, saat itu, mengatakan, dirinya tidak tahu-menahu mengenai hal itu. "Ini aneh. Dana talangannya tahu, kenapa pertanggungjawabannya tidak tahu?" ujar Gayus.
Politisi dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini juga mencecar Miranda, yang membidangi urusan moneter di BI, mengenai pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada kasus Bank Century. "Apa Bank Indonesia pernah memberikan teguran?" tanya Gayus.
"Saya kurang tahu," ujar Miranda. Lagi-lagi, Gayus mengkritisi sikap ketidaktahuan Miranda. "Bapak Gayus yang saya hormati. Saya ini disumpah. Saya tidak bisa bilang saya tahu jika saya memang tidak tahu," ujar Miranda dengan nada sedikit meninggi.
"Iya, tapi ibu tidak terbuka," kata Gayus dengan nada sedikit meninggi pula. Gayus juga mengkritisi Miranda yang mengaku tidak tahu-menahu kasus Bank Century secara mendalam. Padahal, Miranda saat ini adalah salah satu pucuk pimpinan di bank sentral itu.
Miranda malah baru tahu mengenai kasus Bank Century begitu kasus ini meledak. Miranda mengaku tahu kasus ini dari media massa. "Ini sangat ironis. Sangat ironis," ujar Gayus.
Politisi yang menguasai bidang hukum ini mengatakan, sebelum menjalani pemeriksaan, Miranda seharusnya berusaha mempersiapkan diri dan mencari tahu hal-hal yang akan ditanyakan Pansus.
Posted by Wahidin Sang Perantau at 7:43 AM 0 comments
Labels: Politik

